Eman..emaan...eemaan...

Siapa sih si Eman?? Pelawak kondang itu ya?? Bukan pakbro-bubro... "eman" adalah ungkapan bahasa jawa yang berarti "amat disayangkan".. Begini pak/bu bro, hasil dari pengamatan lapangan, ternyata banyak consumen yang masih terlalu berpikir matematis dalam soal biaya, yang akhirnya hal itu malah menjadi sebuah kesalahan dalam membangun. Begini (maning), desain yang sudah disajikan oleh arsitek, terkadang.. ndak semua tukang bisa membaca, menerjemahkan, dan memahami maksud sebuah desain. Baik dari sisi teknis maupun estetika. Mestinya, keberadaan desain - dalam hal ini gambar kerja- memudahkan para pelaksana pembangunan. PakGOH sudah menemukan 3 konsumen yang akhirnya mendapati rumah yang ia desainkan tidak terwujud sebagaimana mestinya, bukan karena faktor biaya/efisiensi, melainkan faktor kemmampuan si pelaksana (entah itu kontraktor, mandor, tukang) dalam memindahkan gambar ke lapangan. Eman... amat disayangkan, konsumen mestinya mendesainkan dghn harapan rumah/huniannya kayak itu, tapi mendekati saja tidak.. Bahkan, secara teknis.. wah.. kalo ini perlu diperdalam. Cerita seorang kawan, bagaiman dia harus kalah ngeyel dgn sesepuhnya ketika mbahas sloof dan kolom strukur. Tak ayal, krn sudah ndak sesuai bestek, pakGOH menyimpulkan bahwa pelaksanaannya menjadi ndak efisien, atau malah minus kontruksi!! Hanya karena si sesepuh ngotot bahwa ia sudah pengalaman demikian (padahal si sesepuh bukan engineer, ndak ada basic akademis teknik bangunan/sipil, tahunya hanya jual material)... Waduh.. lha pengalaman salah kok masih dijadikan acuan... Ilmu Qobla AMal... berilmu sebelum beramal.. kaidah dalam ilmu agama ini berlaku pula untuk ilmu dunia.. termasuk strukur bangunan. Jadi pengalaman salah ndak bisa dijadikan acuan, pengalaman benar harus diuji secara keilmuan. KAlau sudah begini kasihan saja lah pada konsumen.... Terkadang, pakbro-bubro, saya menawarkan diri menjadi supervisi/pengawas dalam pelaksanan pembangunannya. Bukan apa sih, sekedar membantu supaya desain bisa diterapksan secara optimal... sehingga antara benak dan kenyataan bisa sinkron. Dan, konsumen kepuasannya bisa diukur. Padahal, paling sekali kunjungan per 2 jam perhari cukup ngganti ongkos sarapan 50.000 perak. Itupun bisa waktu tertentu yg diminta oleh konsumen. Jadi ketika ada masalah dalam penerapan desain, perencana bisa menganalisa dan membantu pelaksana dengan memberi solusi. Bukannya mencari kelemahan si pelaksana... ini yg sering salah kaprah... akibat budaya di proyek pemerintah yang menempatkan direksi dan pelaksana pada poros yang berjauhan dan kontradiksi.. Jadi ketika konsumen mungkin menekan biaya pelaksanaan dengan meniadakan pengawasan/supervisi, maka selama pelaksana faham secara dalam dan detail sebuah desain, itu baik-baik saja. Jika tidak, maka kelak konsumen akan menerima sebuah penyesalan, kecewa, memendam ketidak puasan.. yang dia nikmati selama rumah itu berdiri dan ia tempati. Lain lagi jika memang puas atau sekedar.. yo wis biarlah... Seperti hari ini saya menemukan project desain saya yg diterapkan oleh tukang, terjadi perbedaan yang maksudnya baik tapi jadi mubazir dan merusak sisi artistik. Dalam satu bentang mestinya cukup 1 kuda-kuda, si tukang menambah 1 lagi, jadi 2 kuda-kuda.. mestinya ada dak talang 1m dgn balok gantung, kini ditiadakan dan kuda2 tambahan itu tumpuannya maju 1 meter.. (sulit dibayangkan, kedudukan kaki kuda2 sama tapi ujung tumpuan tidak sejajar). Dan ini tidak diketahui si konsumen. Sedangkan saya melakukan teguran pun pikir2, karena saya ndak punya kapasitas pada tukang. Saya hanya sebagai perencana, dan si konsumen jga ndak pernah melakukan konsultasi. Sekedar datang ke saya sebenarnya free lo... emaan..emaan..emaan...

Islamic Center, Memadukan Masjid dengan Perpustakaan

Umumnya, Panitia Pembangunan Masjid menghendaki Masjid is Masjid.. cuman sekedar tempat sholat.. atau aktivitas ibadah mahdloh..selesai..; Dari historis sejarah sering dilupakan, bagaimana Rosululloh saw menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas dalam mencerahkan dan mengelola masyarakat. Bagaimana semua persoalan keummatan bisa di bahas, digodog dan ditemukan solusi sering kali malah di masjid. Dari urusan ibadah, urusan keluarga, urusan pertanian, urusan sosial, urusan keamanaan hingga urusan perekonomian. Begitu pula sepeninggal Rosululloh saw, dimana para ulama menjadikan masjid sebagai maktabah (perpustakaan) dan pengkajian kitab-kitab Islam.
Maka menjadikan Masjid sebagai ISlamic Center adalah gagasan tepat. Jadi semua kegiatan atau aktivitas keIslaman dikembalikan ke masjid. Untuk itu utilitas masjid yang mendukung fungsi tersebut harus tersedia. Saya ndak tahu, apakah ini nanti tema-nya Islamic Center, yang jelas bangunan ini memang sepintas dari luar masjid. Namun tidak hanya sebagai masjid yang kita pahami sebagai tempat sholat semata. Maka gedung 2 lantai ini terintegrasi Masjid dan Perpustakaan. Bukan karena berada di kompleks pesantren. Namun ide ini paling tidak menyadarkan alam bawah sadar kita. Kayaknya bikin masjid mesti begitu deh...
Fasade tampak masjid ini, maunya, model minimalis kontemporer. Pernah melihat Masjid Al Irsyad Di Parahyangan Bandung???? MAsjid fenomenal itu mendapat penghargaan karena bentuknya yang unik, artistik dan penuh filosofi.
Berangkat dari situ, saya mencoba menarik benang merah. Bentuk masjid atau Islamic Center, ndah harus begitu dan begini. Bebas... Karena dalil yang menunjukkan mbangun masjid mesti ada kubah atau apalah, ndak ada. Itu hanya budaya yang memberi pengayaan pada khasanah Islam, tanpa merubah ajaran Islam itu sendiri. Karena urusan artistik bangunan, ISlam tidak memberi batasan, selama tidak ada kesan pada kesyirikan.
Berdasarkan paparan ahli konstruksi, bentuk kubah lengkung memang punya keuntungan menjangkau jarak bentang lebih jauh.

DESAIN MUSOLA MODERN DI KABUPATEN BLITAR

Desain tempat ibadah kaum Muslimin sebenarnya tidak ada panduan baku, setiap daerah, dan jaman mungkin ada perbedaan corak, model dan karakt...

Popular Posts